MEUCUREH LUKA
JUDO LON MITA
ANGEN BADEE BA
SANG BIDADARI
GASEH TEULARANG
UNDANGAN PUTEH
RANUB SEULASEH
HARTA KEON YANG UTAMA
MEUDUROE GASEH
Jika ada yang bertanya, baik mana antara film dan tulisan, lebih berpengaruh mana antara media cetak baca atau media audio visual? Maka penyuka atau pengelola film pasti membela film, dan penyuka atau penulis membela tulisan, lalu bagaimana bagi yang tak suka atau suka keduanya? Terserah bagaimana itu dinilai, yang jelas isi pemikiran para filsuf Yunani kuno diketahui dan diikuti sepanjang sejarah manusia setelahnya karena tulisan.
Kita tahu, zaman ini budaya barat diadobsi dengan cepat di seluruh dunia karena film-film Hollywood. Jika mau membandingkan mana lebih penting film atau tulisan, maka tidak pernah berakhir, seperti perdebatan tentang mana lebih penting siang atau malam.
Di Indonesia, para pakar mengabarkan bahwa perkembangan perfileman masih pada tahap belajar, sementara perkembangan dunia menulisnya masih pada tahap sama, hanya beberapa orang, seperti Pramoedya Ananta Toer yang dapat melampau batas itu, dan hanya beberapa orang lain hampir melewatinya.
Di Aceh, perkembangan dunia perfileman dan tulisan mengalami hal serupa Indonesia secara umum. Bahkan, pembuatan film-film di Aceh masih pada tahap coba-coba, seperti perang coba-coba tapi matinya benaran. Filmnya dibuat coba-coba tapi dipasarkan benaran. Belum adanya film yang dibuat serius di Aceh membuat tidak adanya para pakar film di kawasan ini.
Mutu perfilman di Aceh bisa meningkat jika para pembisnis film di Aceh selama ini berani dan mau berpikir bagaimana mutu produksi mereka bernilai seni bukan bisnis semata yang membodohi publik karena dipaksa mengkonsumsi produk asal jadi (duit). Para pembisnis film ini diharapkan bisa bekerjasama dengan para pakar film yang tahu tentang bagaimana film bermutu tinggi.
Kemampuan seni film para pakar digabungkan dengan obsesi bisnis produser, maka majulah perfilman di Aceh. Dalam hal ini, yang sering mengomentari film adalah Fauzan Santa, Teuku Kemal Fasya dan Jauhari Samalanga. Dan produser film di Aceh yang popular adalah Dhin Kramik, produser Eumpang Breueh. Bayangkan saja bagaimana majunya perfilman di Aceh kalau idealisme ketiga pengamat film tersebut digabungkan dengan kemampuan finansial memproduksi film Dhin Kramik, dkk.
Peduli pada perfileman bagi orang Aceh penting, karena sebagian orang Aceh mengkonsumsi film-film yang diputar televisi nasional dan film lepas yang beredar bebas di pasaran, baik film dari Aceh maupun dari luar.
Sementara dunia kepenulisan, jika di Indonesia kita bisa tunjuk Pramoedya Ananta Tour bidang prosa, maka di Aceh belum ada yang bisa kita jagokan untuk menjadi sastrawan besar, walau banyak yang disebut-sebut sebagai sastrawan senior untuk ukuran Aceh, tapi belum ada yang kuat mengarah menjadi penulis dunia, kecuali yang punya cikal bakal untuk itu terus berkarya.
Kenyataan kini para penulis baru muncul di Aceh memberikan harapan ke depan ada orang Aceh yang menulis sekaliber dunia, baik dari yang baru-baru muncul itu maupun dari yang sudah lama-lama berkutat dalam kepenulisan di Aceh.
Perkembangan film dan kepenulisan di Aceh secara umum merangkak maju. Kalau dalam film, masa terkejutnya orang Aceh membuat film sehingga banyak muncul produser dadakan lalu menghilang, kini sudah lewat, bisa memperbagus mutu, seni dan moralitas dalam produsi berikutnya.
Dalam dunia kepenulisan, zaman puja-puji atau hujat telah lewat, kini tiba masa memperbaiki mutu karya dan semangat masing-masing. Baik pengkarya maupun penikmat karya, mari mengeratkan persatuan dan meningkatkan mutu diri kita agar budaya dan peradaban Aceh gemilang.[]
Oleh: Thayeb Loh Angen, pengurus Lembaga Budaya Saman.
Semenjak itulah para seniman-seniman terus berbenah diri untuk bersaing dengan lagu-lagu dari daerah lain. Kreatifitas dan tingkat keberanian seniman Aceh dalam memproduksi lagu-lagu Aceh boleh diangkat jempol dan salut, kenapa tidak dalam jarak waktu yang sangat singkat kurang dari dua tahun lagu-lagu Aceh sudah berani untuk berkompetisi, banyak jenis musik yang sudah masuk dalam lagu-lagu Aceh seperti pop, slow rock, house, reaggea, bahkan sampai etnis dan kolaborasi lainnya yang mencerminkan bahwa lagu-lagu Aceh bukan hanya bungong jeumpa saja.
Dalam beberapa tahun terakhir perkembangan musik dan lagu Aceh bisa dibilang sudah sangat baik. Kebangkitan lagu-lagu Aceh sudah tidak terlepas dari motifasi dan kreatifitas seniman-seniman kita terdahulu.
Tak heran kalau selama ini banyak muncul sinetron mini, drama, komedi yang semuanya dilakukan oleh seniman-seniman Aceh walaupun dengan sarana dan prasarana yang seadanya, yang penting mereka sudah menunjukkan kemampuan dan kreatifitas mereka dalam hasil karya
Aceh merupakan sebuah daerah yang sangat kental nilai-nilai syariah hal ini dibuktikan dengan pelaksanaan undang-undang tentang syariat islam. Nilai-nilai seni yang dianut oleh orang Aceh adalah seni dan budaya yang berdasarkan agama, moralitas serta hukum yang berlaku di daerah Serambi Mekkah, pemberlakuan syariat bukanlah hal yang perlu kita hindari.
Adanya lembaga Asossiasi Industri Rekaman Aceh (AIRA) yang sudah dibentuk oleh para seniman-seniman Aceh juga tentunya sebagai lembaga koordinasi, pembimbing dan penyalur aspirasi masyarakat seniman dalam berkarya, BAPFIDA sebagai lembaga perpanjangan tangan pusat untuk lokal yang dibawahi oleh badan sensor, Dinas Syariat juga instansi lain yang terkait harus ikut andil dalam hal ini.
Ada banyak lirik-lirik lagu dan VCD yang sangat tidak sesuai dengan norma, adanya kata-kata (lyric) yang memang sangat tidak bagus untuk kita dengarkan apalagi ditambah dengan goyangan artis dengan cara berpakaian yang jauh dengan norma keislaman. Dominannya penggunaan figur-figur Background perempuan dalam setiap penggarapan VCD seakan-akan memberikan sebuah pemahaman bahwa perempuan menjadi bahan jual yang menjadi pelaris setiap produksi.
Hal-hal seperti ini perlu adanya koordinasi ulang antara lembaga-lembaga lokal dan pemerintah untuk menjadikan seni, musik dan lagu Aceh yang sesuai dengan syariat. Hampir delapan puluh persen lagu-lagu Aceh dalam bentuk VCD selama ini adalah tidak sesuai dengan syariat, lantas perlukah keadaan ini berlarut-larut begitu saja yang mestinya media seni ini harus mampu mengajak manusia untuk berlaku sopan dan tidak melanggar aturan yang ada.
Seni yang berkembang di Aceh adalah seni yang bersumber pada budaya yang selalu mengedepankan agama dan nilai-nilai keislaman, nilai-nilai keislaman itu harus kita junjung tinggi sehingga kita tidak lari dari koridor agama sebagai landasan pacu. Seni juga sebagai proses ekspresi jiwa yang senantiasa kita butuhkan kapanpun dan dimanapun, mari kita budayakan dan tanamkan nilai-nilai islami dalam setiap kesenian dan Insya Allah kita selalu mendapat berkah dan rahmat dari Allah Swt.
Oleh: Maimun Yulif